News

    





Dituduh Antek Yahudi, Ahmad Dhani 
Menjawab
"Saya bukan agen Yahudi. Saya agen kopi."
JUM'AT, 27 MEI 2011, 01:15 WIB
Elin Yunita Kristanti, Beno Junianto

Ahmad Dhani (Vivanews/Gestina)
VIVAnews -- Sebuah buku berisi bom dikirimkan ke rumah musisi tenar, Ahmad Dhani 15 Maret 2011. Judulnya: "Yahudi Militan".  Untung, bom itu tak meledak, meski baru disadari keberadaannya dua hari kemudian.

Kala itu Dhani mengaku pernah dituduh sebagai agen Yahudi. Kontan ia membantah keras, "Itu fitnah, saya bukan agen Yahudi. Saya agen kopi."

Meski kasus itu sudah berlalu, Ahmad Dhani tetap merasa gerah dituduh terkait Yahudi. Lantas, ia pun menceritakan latar belakang mengapa ia dianggap 'antek Yahudi'.

Berawal dari aksesoris. "Awalnya saya memakai aksesoris itu yang dianggap aksesoris Yahudi, waktu itu saya ke kawasan Blok M, ada banyak pernak pernik kayak kalung," kata Dhani saat ditemui di Studio Dahsyat RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis 26 Mei 2011.

"Namanya pemain band beli beli saja, waktu itu ada yang menarik saya beli saya pakai, dan ternyata itu adalah lambang Israel, gara gara itu saya dituduh antek Israel," ujar dia.

Ahmad Dhani mengaku sama sekali tidak tahu dengan aksesoris yang dikenakannya itu berhubungan dengan Yahudi. "Padahal saya ketemu posan drumer ex Kotak, dia juga nggak tahu itu lambang apa, banyak orang nggak tahu. Itu saya gunakan tahun 2005," kata Dhani.

Alasan lain, tambah Dhani, gara-gara kakeknya adalah orang Jerman. "Karena dia (kakek) orang Jerman, juga dituduh Yahudi, bentuk kebodohan saya rasa," kata pentolan Dewa 19 itu.

Dhani mengatakan, latar belakang ras bukan hal yang penting. Ia beranggapan kelompok yang membenci ras tertentu bukan kelompok agama. Sebab, "agama tidak pernah mengajarkan kebencian terhadap ras dan agama lain. Kalau ada kelompok yang diskriminasi itu bukan kelompok agama."

Apalagi, tak ada alat pendeteksi ras; yahudi atau bukan, meski tiap ras punya karakter khusus. "Ahmad Dhani Yahudi atau tidak, apakah itu penting. Kalau ada yang menuduh saya Yahudi, orang itu sedang menuduh saya yang baik," kata dia. "Orang menganggap saya cerdas secara tidak langsung."
Sumber:www.detiknews.com



Kamis, 26/05/2011 13:33 WIB
Gisheila Nainggolan, Siswi dengan Nilai Matematika UN Sempurna  
Andri Haryanto - detikNews

Jakarta - Satu langkah lagi hampir dicapai Gisheila Ruth Anggitha Nainggolan (16) untuk menjadi dokter anak. Tekun belajar dan fokus pada mata pelajaran yang akan diuji di Ujian Nasional (UN) berbuah manis. Lulusan SMAN 81 Jakarta ini lolos tanpa tes masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Anak perempuan kedua dari tiga bersaudara ini mengaku terkejut ketika Pemerintah DKI Jakarta dan pihak sekolahnya mengumumkan dirinya mendapat nilai IPA UN tertinggi se-DKI Jakarta. Nilai rata-rata yang didapatnya dari ujian tersebut adalah 57,5 dari 6 pelajaran yang diuji.

Melihat nilai yang didapat, bukan main tingginya. Mata pelajaran eksak mendapat nilai rata-rata di atas 90, hanya pelajaran Bahasa Indonesia yang terendah.

Anak perempuan yang gemar membaca novel dan roman ini memiliki nilai tertinggi dalam pelajaran Matematika, 100. Disusul Biologi, Fisika, dan Kimia dengan nilai 97,5 dan Bahasa Inggris 94. Kemudian Bahasa Indonesia mendapat poin 86.

"Dari semua pelajaran cuma Bahasa Indonesia yang deg-degan pas ngerjain soalnya. Kalau yang lain masih bisa tenang," ujar siswi yang mendapatkan kesempatan belajar di kelas Akselerasi SMAN 81 Jakarta, saat ditemui wartawan di halaman sekolah, Jl Kartika Eka Paksi, Makassar, Jakarta Timur, Kamis (26/5).

Gadis berperawakan kurus tinggi ini menuturkan alasannya bisa mencapai nilai tertinggi eksak. Baginya pelajaran eksak lebih dianggap mudah daripada pelajaran sosial pada umumnya. Dia menuturkan, pelajaran sosial terlalu banyak yang harus dihafal. Sementara eksak lebih kepada penajaman dan pelatihan dalam menyelesaikan soal.

"Dari semua pelajaran eksak saya lebih suka Kimia, seru aja kalau Kimia," kata Gisheila yang beberapa kali mendapat rangking 3 besar selama bersekolah.

Bukan hanya dia yang terkejut ketika diumumkan mendapat nilai tertinggi IPA dalam UN. Keluarga dan sekolah juga terkejut sekaligus bangga Gisheila mendapatkan prestasi tersebut.

Prestasi tersebut bukan didapat secara simsalabim. Saat bersekolah, dia lebih memilih membaca dan menyelesaikan soal-soal latihan pelajaran. Ketika UN mulai mendekati hari, Gisheila justru tidak menyibukkan dirinya dengan belajar.

"Deket-deket ujian saya cuma mengulang apa yang pernah dipelajari, nggak terus dipaksakan belajar. Karena kalau sudah capek malah pelajaran enggak akan masuk," ujarnya.

Bukan hanya itu. Kunci kesuksesan, menurutnya, adalah ketekunan dan sungguh-sungguh untuk meraih apa yang dicita-citakan. Sikap itu didapatnya ketika gagal masuk ke SMAN Lapan, Bukit Duri, Jakarta Pusat.

Dia tidak patah arang dengan kegagalan yang diterimanya tersebut. Di bangku sekolah SMA yang pernah ia tempati, dia fokus berupaya untuk dapat melenggang ke kampus UI Fakultas Kedokteran.

"Di mana pun kita ditempatkan asal kita serius pasti tercapai," tuturnya seraya melepas kacamata yang dipakainya.

Kini Gisheila dapat bernapas lega. Cita-citanya duduk di Kedokteran UI dapat tercapai berkat usaha yang dilakukannya. Selamat!
Sumber:www.detiknews.com





Tidak ada komentar:

Posting Komentar